Rabu, 16 Mei 2018 19:51 WITA

Hati-hati Penggiringan Opini Unggul Survei di Pilgub Sulsel

Editor: Mulyadi Abdillah
Hati-hati Penggiringan Opini Unggul Survei di Pilgub Sulsel
Arief Wicaksono

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kalangan akademisi di Makassar ikut mengomentari tentang pernyataan kubu pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) yang menyebut hanya kecurangan bisa mengalahkan mereka di Pilgub Sulsel. 

Begitu juga, saling klaim survei antara kubu NH-Aziz dengan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS). Penggiringan opini itu patut ditengarai memiliki motif terselubung.

Pengamat Politik dari Universitas Bosowa (Unibos) Arief Wicaksono menuturkan, pernyataan tersebut sangat berbahaya.  

Pasalnya, proses Pilgub Sulsel disebutnya bisa tercederai gegara penggiringan opini di masyarakat. Bukan hanya itu, stabilitas keamanan di kontestasi yang diikuti 4 pasangan bisa memicu timbulnya konflik horizontal, khususnya di masyarakat. 

Untuk itu, kandidat yang mengklaim surveinya paling tertinggi sengaja melakukan strategi pembentukan opini di masyarakat. Termasuk berusaha menuding calon lain akan melakukan kecurangan alias jekkong jika ingin memenangkan pertarungan. 

"Jadi ada upaya melekatkan image jekkong atau curang kepada salah satu kandidat. Sebenarnya, tidak perlu dilakukan pencitraan opini seperti ini karena berpotensi menimbulkan konflik dan stabilitas keamanan," tegas akademisi dari Unibos ini dalam rilis yang diterima redaksi, Rabu (16/5/2018). 

Arief mencermati, klaim hasil survey juga sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, karena dinamika dukungan elektoral di masyarakat bagi calon pemilih sangat tinggi. 

Menurut dia, sekarang mungkin angkanya sekian, tapi besok belum tentu sama. Bisa juga berkurang, tergantung kinerja politik di lapangan.

Mungkin saja awalnya diunggulkan, tetapi bisa saja kedodoran diakhir kompetisi. Hal ini bagi Arief sering kali terjadi dalam di kontestasi pilkada.