Minggu, 01 Juli 2018 18:21 WITA

Kekhawatiran Gani Sirman Bila Kolom Kosong Menang di Pilwalkot Makassar

Penulis: Sartika Marzuki
Editor: Nur Hidayat Said
Kekhawatiran Gani Sirman Bila Kolom Kosong Menang di Pilwalkot Makassar

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Perhelatan pencoblosan Pemilihan Wali Kota Makassar (Pilwalkot) Makassar sudah berakhir sejak empat hari yang lalu. Namun, kisruh soal siapa yang unggul dalam ajang penentuan pemimpin baru di Kota Makassar itu masih terus menjadi bahan perdebatan.

Pasalnya, ada dua versi informasi yang kini beredar di masyarakat. Berdasarkan hasil quick count sejumlah lembaga survei, kandidat tunggal berhasil dikalahkan kolom kosong. Sebaliknya, real count yang dilakukan kubu Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) mengklaim mereka adalah pemenangnya.

Adanya dua versi informasi dalam pertarungan Pilwalkot Makassar sontak menjadi perhatian publik. Tak hanya di Kota Makassar, tetapi juga nasional. Bahkan, peristiwa yang disebut-sebut bakal menjadi sejarah baru perpolitikan di Indonesia ini, telah menjadi bahan perbincangan sejumlah elite tanah air.

Seperti yang terjadi di salah satu grup WhatsApp bernama "Kareba". Dalam grup yang beranggotakan 58 peserta, termasuk Wali Kota Makassar; Mohammad Ramdhan Pomanto, Wakil Wali Kota Makassar; Syamsu Rizal, serta sejumlah pejumlah pejabat di Sulawesi Selatan, turut membahas sengketa kemenangan antara Appi-Cicu dan kolom kosong.

Sebut saja mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Gani Sirman. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terkait peluang kemenangan kolom kosong di Pilwalkot Makassar.

Loading...

"Tabe antekamma anne keadaan'nga Pak, tambah rewai anne Dany (Danny Pomanto) punna ammetai (Bagaimana sekarang ini keadaan Pak, tambah berani Dany kalau menang)," kata Gani Sirman dalam pesannya, pukul 15.53 Wita, Minggu (1/7/2018).

Setelah mendapat respons beragam dari anggota grup, Gani Sirman pun langsung menghapus komentarnya dalam grup tersebut.

Diketahui sebelum Gani Sirman berkomentar, ada pula pesan panjang dari mantan Sekretaris Daerah Kota Makassar, Ibrahim Saleh. Pesan tersebut berisi cerita perumpamaan untuk menggambarkan suasana perhitungan suara di Pilkada Makassar.

"Seorang Bapak dan Keluarganya, makan di Warung, Setelah Selesai Makan, dia minta Pelayan Menghitung yg harus dibayar,  Pelayan, Menghitung dan Menyampaikan jumlahnya Rp.225 ribu, Setelah dia Ke Kasir untuk Membayar Dia sangat terkejut, karena Kasir yg Bernama Said, Menyampaikan harga yg harus dibayar Rp.400 ribu,  Bapak tsb Protes dan menyatakan kenapa bisa  Berbeda Pelayan cuma mengatakan  Rp.225 Ribu, Dengan Enteng Kasir Said Berkata, yg dikatakan Pelayan itu adalah Quick Counk sedangkan yg saya sampaikan adalah Real Counk, Bapak mau percaya yg mana ??," tulis Ibe sapaan akrab Ibrahim Saleh.

Loading...
Loading...