Minggu, 08 Juli 2018 10:28 WITA

Fakta-Fakta Tak Terduga di Balik Kemenangan Kolom Kosong di Makassar

Editor: Abu Asyraf
Fakta-Fakta Tak Terduga di Balik Kemenangan Kolom Kosong di Makassar
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Pemilihan wali kota dan wakil wali kota Makassar 2018 berlangsung dramatis. Ada sejumlah fakta menarik yang tidak tak disangka sebelumnya sebagian orang.

Berikut beberapa fakta di Pilkada Makassar 2018:

1. Warga Makassar Tak Tertarik Mencoblos

Hasil rekapitulasi suara KPU Makassar menunjukkan bahwa angka partisipasi pemilih sangat rendah. Hanya 584.406 atau 57,32 persen warga yang menggunakan hak pilihnya dari 1.019.475 yang terdaftar sebagai pemilih.

Pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi meraih 264.245 suara atau 46,77 persen. Sementara pemilih yang tidak setuju Appi-Cicu memimpin Makassar jauh lebih besar yakni 300.795 atau 53,23 persen.

Data itu sekaligus menunjukkan fakta lain yang mengejutkan. Dari lebih satu juta warga yang terdaftar sebagai pemilih, ternyata hanya 25,92 persen yang menginginkan Appi-Cicu menjadi wali kota dan wakil wali kota Makassar. Itu dibuktikan dengan kehadiran mereka di TPS dan memilih pasangan yang diusung koalisi 10 parpol tersebut.

2. Kalah Start versus Tingkat Kepuasan Publik

Kekalahan Appi di Pilkada Makassar tidak terlepas dari telatnya dia mengambil keputusan bertarung dan bersosialisasi. Pada survei yang dilakukan Jaringan Suara Indonesia (JSI) pada Desember 2016, Munafri Arifuddin belum masuk hitungan. Namanya bahkan belum muncul sama sekali.

Supervisor Pemenangan JSI, Arif Saleh menyebut tingkat kesukaan dan elektabilitas bakal calon incumbent, M Ramdhan Danny Pomanto kala itu di atas 50 persen. Survei yang direkam pada Desember 2016 itu melibatkan 440 responden dengan teknik multistage random sampling.

“Semakin sedikit figur yang disimulasikan, elektabilitas Danny semakin tinggi. Begitupun simulasi pasangan, siapapun yang dijadikan pendamping, masyarakat tetap menerima," ungkap Arif Saleh, Kamis (5/1/2017).

Ia memaparkan, dari berbagai figur yang dimasukkan di survei, ada dua nama yang memungkinkan bisa menjadi rival. Masing-masing, Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal dan Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Irman Yasin Limpo. Pasalnya, elektabilitas dua figur itu berada di bawah Danny. 

Tingkat kesukaan dan elektabilitas Danny tak lepas dari kepemimpinan Danny di Pemkot Makassar dalam tiga tahun terakhir. Ada 77,05 persen yang mengaku cukup puas terhadap kinerja Ramdhan Pomanto selama memimpin ibu kota Sulsel tersebut. Danny, sapaan akrab Moh Ramdhan Pomanto dipersepsikan sukses menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

“Kepuasan publik terhadap kinerja pemkot berbanding dengan kepuasan publik untuk berbagai bidang. Seperti pelayanan publik, infrastruktur, penegakan hukum, ekonomi, sosial dan politik. Itu di atas 70 persen semua,” sebut Arif Saleh.

Arif menguraikan, survei juga merekam respon publik terhadap beberapa program unggulan yang diterapkan Danny. Seperti Makassar Tidak Rantasa, Lorong Garden, Makassar Home Care, serta Makassar Smart City. “Dari beberapa program unggulan itu, rata-rata di atas 60 persen mengaku cukup puas,” tambah Arif.

Menurut Arif, tingginya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Pemkot Makassar tidak terlepas dari kepemimpinan Danny yang dinilai cukup meyakinkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di Kota Makassar. Begitu pun janji-janji politiknya saat maju mencalonkan diri di pilkada lalu, lebih 60 persen responden mengakui sudah merealisasikannya.

3. Elektabilitas Appi dan Danny Jomplang

Celebes Research Center (CRC) merilis hasil survei jelang Pilwalkot Makassar 2018, di Hotel Aryaduta, Jalan Penghibur, Makassar, pada Minggu (18/3/2018). Hasilnya, elektabilitas atau tingkat keterpilihan calon nomor urut 2, Moh Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari (DIAmi) mencapai 71,8 persen.

Sementara pasangan nomor urut 1 Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi sebesar 18,8 persen. Tinggal 9,4 persen responden yang tidak tahu atau tidak menjawab. Survei CRC dilakukan pada 1-14 Maret, dengan mengambil 1000 responden. Margin of error 2,9 persen. Responden tersebar secara proporsional di 15 kecamatan se-Makassar.

"Jadi ini bukan prediksi, siapa yang akan memenangkan pilkada pada Juni mendatang. Data ini merupakan hasil potret pada saat survei dilakukan, jadi bukan prediksi ke depan. Data ini bisa saja berubah, bergantung dari pergerakan tim," kata Direktur CRC Herman Heizer kala itu.

4. Jubir Appi-Cicu Anggap Survei CRC Lelucon

Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Makassar, Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) sempat meledek hasil survei Celebes Research Center (CRC). Juru bicaranya, Arsony menyebut hasil survei CRC lelucon.

"Sedikit pun kami tidak terpengaruh dengan itu dan menyerukan pada tim dan konstituen agar menjadikan hasil survei itu sebagai lelucon opini saja. Itu politik survei brutal yang dilakukan oleh DIAmi," tegas Juru Bicara (Jubir) Appi-Cicu, Arsony, Senin (19/3/2018).

Menurut Sony, sapaan akrabnya, hasil survei yang dirilis CRC tersebut sangat jauh dari hasil survei internal tim pemenangan Appi-Cicu.

"Sekali lagi DIAmi lewat CRC tidak bisa menyembunyikan strategi politik survei yang brutal dengan dua kali merilis hasil survei yang tidak objektif dan sangat jauh dari hasil survei internal kami," tambahnya.

5. Ada Timses Appi-Cicu yang ABS?

Mungkinkah ada pengkhianat di tim pemenangan Appi-Cicu seperti yang terjadi pada tim sukses Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar? Setidaknya indikasi itu tergambar dari klaim kemenangan Appi pasca pemungutan suara. Menurut CEO PSM itu, berdasarkan hasil real count timnya, dia dan Cicu menang dengan persentase 53 persen berbanding 46 persen.

Sementara hasil quick count CRC dan Index Indonesia justru menunjukkan sebaliknya. Hal itu diperkuat hasil hitung cepat KPU melalui scan C1. Puncaknya, hasil hitung manual KPU menunjukkan bahwa hasil quick count CRC dan Index itulah yang benar. Siapa yang memberi informasi "Asal Bapak Senang" kepada Appi-Cicu?

Berdasarkan data ABS itulah, Appi optimistis menang di Pilkada Makassar. Dia pun menyemangati tim pemenangannya hingga dini hari, seperti dalam sebuah rekaman video yang beredar.

"Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat dini hari dan salam kemenangan. Teman-teman, para saudara-saudara seperjuangan, insya Allah perjuangan kita sudah berakhir. Sebentar lagi, insya Allah kemenangan itu akan kita raih. Mari kita berdoa untuk menjaga sehingga kemenangan yang telah kita cita-citakan bersama bisa kita raih pada hari ini. Terus semangat teman-teman. Mari kita berjuang bersama untuk membawa Makassar jauh lebih baik. Selamat malam dan terus bergerak!"

6. Data Valid Appi di Acara Rosi

Saat tampil di acara "ROSI" yang tayang di Kompas Tv bersamaan rekap suara tingkat KPU Makassar, Munafri Arifuddin tetap kukuh mengklaim diri sebagai pemenang. Dia mengaku memiliki data yang valid bahwa pasangan Appi-Cicu menang di Pilkada Makassar.

Saat itu, rekapitulasi suara Pilkada di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) sudah selesai. Dengan begitu, hasil Pilkada Makassar sebenarnya sudah ketahuan. Tinggal menjumlahkan suara dari 15 kecamatan di Makassar. Lagi-lagi klaim kemenangan itu diduga dipicu laporan "ABS" dari tim pemenangan yang berkhianat.