13 September 2017 16:16 WITA

Firasat IYL Head to Head dengan NA, Pengamat: Itu Rasional

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Firasat IYL Head to Head dengan NA, Pengamat: Itu Rasional

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Head to head Pilgub Sulsel 2018 antara Ichsan Yasin Limpo (IYL) melawan Nurdin Abdullah (NA), terus menjadi perbincangan. Ada yang sepakat, ada pula yang tidak. Yang sepakat, seperti dua pengamat politik, Adi Suryadi Culla (Unhas) dan Arief Wicaksono (Unibos 45). 

Seperti diketahui, head to head besar peulangnya terjadi di Pilgub Sulsel, adalah pernyataan dari IYL. Menurut Adi, pernyataan IYL ini cukup rasional. Alasannya sederhana saja. Lantaran tahapan pendaftaran di KPU masih terhitung beberapa bulan kedepan. 

"Sebelum mendaftar di KPU sebernarnya semua calon bisa saja batal maju. Nanti setelah mendaftar di KPU dan resmi ditetapkan sebagai calon, dan tidak boleh mundur. Ada konsekuensi regulasi yang dihadapi," kata akademisi bergelar doktor ini, Rabu (13/9/2017). 

Skenario head to head ini, menurut Adi, juga didukung dengan gejolak di tubuh Golkar yang sudah memastikan mengusung Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakar. Nurdin yang juga Ketua Harian DPP Golkar belakangan harus diperhadapkan untuk mengambil alih kebijakan DPP Golkar pasca ketuanya, Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka.

"Yang tidak bisa diprediksi dampaknya, ketika ada vonis, dan itu dilajutkan dengan penahanan," kata Adi. 

(Ichsan Yasin Limpo)

Dia mengatakan, jabatan ketua harian DPP sangat penting, karena itu, kemungkinan terjadinya turbelensi politik di DPP sangat bisa berpengaruh terhadap kondisi internal kepemimpinan partai di Golkar, baik di tingkat pusat maupun di daerah. 

Menghadapi adanya kader yang terus menyuarakan pergantian Setya, menurut Adi, konsolidasi internal partai Golkar sangat penting. 

Olehnya, kemungkinan NH bisa saja batal running di Pilgub. Keputusan ini juga, tentu dengan pertimbangan yang rasional. 

"Itu kondisi real poilitik yang sulit diprediksi. Calon berfikir ketika mau mendaftar di KPU dengan segala reskio yang bisa dihadapi. Dia harus konsisten, dengan pertimbangan apakah ini merugikan atau tidak," tandasnya.

(Nurdin Abdullah)

Sementara Arief Wicaksono, menilai firasat IYL berkat kemampuan merefleksikan apa yang akan terjadi pada dirinya. Karena pengalaman IYL dalam panggung politik Sulsel yang telah lama digeluti. 

"Apalagi IYL juga berlatar belakang keluarga politisi birokrat. Jadi nilai-nilai dalam kompetisi politik itu telah terinternalisasi dalam dirinya," kata Arief.

Namun bagi IYL, lanjut Arief, sebagai politisi atau elit politik, penyampaian firasatnya kepada publik, dapat juga diterjemahkan sebagai strategi untuk mempengaruhi lawan-lawannya dalam membangun pergerakan politik. 

"Bisa saja terbukti," kuncinya.