08 October 2017 01:32 WITA

OPINI

Menunggu Pertarungan Sengit "Segitiga" Pilkada Enrekang

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Menunggu Pertarungan Sengit
Penulis, Ilham Kadir.

DALAM dunia penelitian yang merupakan ranah golongan akademisi, intelektual, ilmuan, para ahli dan pakar punya rumus paten dalam menentukan tahap kebenaran sebuah informasi. 

Jika disusun dengan formula piramida normal (tidak terbalik) akan menjadi empat tingkat, yang terendah adalah asumsi, setelah itu naik menjadi opini, lalu pada level ketiga disebut hipotesis, dan puncaknya adalah teori.

Jika dikiaskan dalam epistemologi fikih (ilmu ushul-fiqh) pun demikian, tetap dibagi menjadi empat level yaitu: asy-syak, al-wahn, adz-dzan, dan al-'ilm.

Tingkat kebenaran masing-masing level berbeda antara satu dengan lainnya. Pada tahap asumsi (asy-syak) kebenaran hanya pada kisaran 10 hingga 20 persen, tahap opini (al-wahn) pada kisaran 30 hingga 40 persen, hipotesis (adz-dzan) kebenaran dapat mencapai 50 hingga 70 persen. Sedangkan teori (al-'ilm) dapat mencapai 80 hingga 100 persen.

Melihat formula di atas, maka tahap asumsi dan opini adalah yang paling terbawah, belum bisa dikategorikan sebagai sebuah kebenaran hakiki. Karena itu pula, ranah asumsi dan opini selalu didahului oleh kata pembuka seperti 'jika', 'kalau', 'seandainya', 'andaika' atau yang semakna dengan itu.

Masalah akan muncul jika pengetahuan yang ada baru pada level asumsi namun dipaksa menjadi hipotesis, atau pada tahap opini namun dijadikan sebuah teori. 

Golongan inilah yang kerap bermasalah, sebab apa yang dia baca langsung dijadikan kebenaran padahal itu hanya asumsi dan opini perlu pencernaan secara mendalam. Cara mencerna ini disebut sebagai 'berpikir filosofis'. Ranah kajian ini melemparkan kita pada filsafat ilmu.

Lalu kenapa ada orang yang mempersalahkan jika orang lain menulis opini? Hakikatnya, golongan seperti ini seharusnya lahir di zaman Fir'aun. Anda tahu bagaimana konsekuensi beropini bahwa ada Tuhan selain Fir'un? Anda akan direbus di atas panci dengan air panas menggelegak. 

Artinya, mereka itu sisa-sisa peninggalan Fir'an yang terlambat lahir di muka bumi. Atau peninggalan zaman batu yang otak dan hatinya seperti batu. 

Pahamilah bahwa setiap orang berhak berkata dan berbuat menurut tahap keilmuannya, selama itu mampu ia pertanggungjawaban di hadapan manusia dan Tuhan.

*** 

Pagi yang cerah.  Bis-bis besar mengangkut para turis mancanegara berjejer menuju Tana Toraja. Saya memandang mereka dengan jelas dari sebuah rumah panggung di Kilo Lima, Kulinjang. Pondok Mertua Indah. Desas-desus Pilkada Enrekang kian kencang, mengalahkan laju bis pengangkut turis berhidung mancung dan berkulit putih abu-abu. 

Arah pertarungan sudah mulai terang. Kemungkinan akan ada dua atau tiga calon. Asumsi bahwa petahana Muslim Bando (MB) melawan kota kosong akan terbantahkan jika satu atau dua kandidat lainnya ikut ambil bagian.

Kandidat Bakal Calon Bupati lainnya yang hingga kini ramai disebut-sebut adalah Amiruddin yang telah mendaptkan empat kursi, Nasdem tiga kursi dan PBB satu kursi. Selain itu ada juga Masrur Makmur Latanro yang kabarnya bakal menggunakan 'plana' PKS. 

Artinya, sampai sekarang baru MB yang benar-benar punya cukup kursi untuk mempertahankan kedudukannya, bahkan sudah lebih karena PDIP sudah dalam genggaman. Sementara  dua lainnya masih redup sebab masih berusaha untuk mencukupi plananya untuk bertarung di gelanggang Pilkada 2018.

Kalau AMR mampu meyakinkan Hanura yang punya dua plana, maka urusan sudah selesai. Di lain pihak MML mampu menambah plana dari Partai Demokrat, maka pertarungan segi tiga Enrekang akan tersaji.

Nampaknya, partai-partai kecil menengah menjadi penentu berapa jumlah kandidat Bupati di Enrekang. Kini bola di tangan mereka. Nampak terlihat unik, sebab partai gajah sekaliber PAN yang memimpin DPR terlihat senyap tanpa gaung.

Tapi, lagi-lagi ini baru tahap asumsi dan opini. Sebab bisa saja PAN pada detik-detik akhir pendaftaran Calon Bupati melakukan gebrakan yang tidak terpikirkan. Begitu pula, wacana pertarungan segi tiga Enrekang akan bubar, jika kedua kandidat belum bisa mencukupi kursi mereka. AMR kurang dua kursi, sementara MML kurang tiga kursi.

Wacana terakhir berkembang, jika MML tak mampu meyakinkan Demokrat, PKS yang rencananya akan tumbangkan petahana justru berbalik akan ikut tumbuh bersama beringin menaungi MB, dengan syarat petahana didampingi Amin Palmasyah. Seorang birokrat, politisi santun, dan pengurus masjid.

Atau skenario MB jilid II kembali tersaji. Ini bisa saja, jika Hanura tetap merapat ke MB, dan Nasdem tetap mengusung AMR. Kalau ini yang terjadi, peluang kemenangan lebih besar, di sisi lain ongkos politik dapat ditekan. 

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA
Ketua Bidang Penelitian dan Informasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Sulsel