11 October 2017 21:38 WITA

Laporan IYL dari Penelitian Pendidikan di Eropa

Menjadi Siswa Dadakan Hingga Menggali Kurikulum Baru Finlandia

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Menjadi Siswa Dadakan Hingga Menggali Kurikulum Baru Finlandia
Ichsan Yasin Limpo ikut terlibat dalam kelas praktikum di sebuah sekolah di Finlandia.

RAKYATKU.COM - Hari ketiga di Finlandia, saya melanjutkan studi komparasi tentang pendidikan. Kali ini, berkesempatan mengunjungi dua sekolah, yakni di Elmentry School (tingkat dasar). Salah satu sekolah setingkat SMA yang tergolong tertua di Finlandia. Karena bangunannya berdiri sejak 118 tahun lalu. 

Sambutan hangat sangat terasa saat mengunjungi dua sekolah ini. Mulai kepala sekolah, para guru, dan siswa begitu ramah melayani kami. Keakraban sungguh terjalin. Begitu pun mereka sangat antusias menjelaskan dan bertukar informasi tentang sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah. 

Bukan hanya itu, untuk menggali lebih banyak proses belajar-mengajar di dalam kelas, saya menjadi “siswa” dadakan. Bersama para siswa, saya mendengarkan dan melihat langsung bagaimana interaksi antara guru dan siswa, maupun kenyamanan belajar dalam kelas.

Dari kelas ke kelas, saya menikmati pengalaman berharga ini. Di kelas matematika, kelas biologi, kelas kimia, kelas keterampilan, serta di kelas cooking, saya mendapat banyak referensi tentang pendidikan berkualitas. Termasuk penjelasan langsung kepala sekolah dan guru yang menerima kami penuh keakraban.
 
(IYL disambut hangat pihak sekolah)

Studi komparasi di hari ketiga ini semakin melengkapi penelitian sehari sebelumnya. Untuk kali ini, saya mendapat banyak gambaran tentang tenaga pendidik. Kalau sebelumnya, sudah menulis secara umum jika guru juga punya ujian setiap tahun di tingkat sekolah, maka secara detail saya dapatkan berbagai tambahan. 

Diantaranya, kepala sekolah di Finlandia, minimal pendidikannya S2, dan dinyatakan lulus kualifikasi khusus, serta tes kepemimpinan. 

Begitu juga para guru harus punya pendidikan kualifikasi magister yang diawasi langsung oleh kepala sekolah. Bukan hanya itu, faktor keberhasilan pendidikan yang terletak di tangan guru memang benar-benar diperhatikan pemerintah. Sebab, selain kualifikasi pengajar minimal S2, juga materi-materi pelajaran sudah disediakan. 

(IYL ikut menjadi siswa dalam sebuah kelas praktikum)

Serta terjalinnya kekompakan antar guru dalam mentransfer pengetahuan yang dimiliki sesuai spesifikasinya. Di samping itu, meski ada kurikulum nasional, tetapi pihak sekolah bisa melakukan kreasi tersendiri dengan tetap berpedoman pada kurikulum nasional. 

Tak kalah penting yang membuat pendidikan Finlandia sangat berbeda, yakni jika ada siswa yang berkebutuhan khusus maka pihak sekolah menyediakan guru yang bisa melakukan penanganan khusus. Dan lagi-lagi, guru yang ditunjuk punya kualifikasi pendidikan magister.

(IYL bahkan ikut menyimak penjelasan dari guru di dalam kelas)

Dari sudut pandang siswa, guru betul-betul membantu interaksi. Siswa begitu nyaman menyerap pengetahuan. Apalagi, hubungan guru dan siswa sangat bersahabat. Saling menempatkan diri antara anak dan orang tua, maupun sekali-kali memposisikan sebagai teman di ruangan, maupun di luar kelas. 

Ditambah lagi, siswa tidak terbebani dengan pungutan-pungutan, karena semua ditanggung pemerintah. Khusus di sekolah setingkat SMA yang saya kunjungi, tercatat ada 470 siswa yang lokasinya di Historical Finland atau berada di pusat kota. Sebanyak 2/3 siswa mereka ada yang dites masuk. Karena sebagian ingin belajar tari, musik, dan keterampilan khusus lainnya. 

Dari jumlah siswa tersebut, ada 43 guru yang menangani. Masing-masing, 36 guru mata pelajaran, 3 guru khusus, 2 student consuler, 1 guru kelas (wali kelas), dan 1 asisten. Tentang mata pelajaran, ada subjek yang wajib, dan pilihan. Subjek wajib jumlahnya 14, dan hanya diajarkan di awal kelas 7 saja. 

Sementara di kelas 8, ada beberapa yang tidak wajib. Seperti seni, musik dan visual art. Total jumlah pelajaran hanya 10, dan tambahan maksimal 2, seperti memilih belajar bahasa. Di sekolah setingkat SMA atau di grade 7-9 jam pelajarannya maksimal 30 sampai 32 jam per minggu.

Lalu bagaimana dengan kurikulum baru 2016? Ada yang menjadi pembeda, yakni dalam hal kemampuan mentransfer kompetensi ilmu, kompetensi IT, kehidupan kerja management dan kehidupan sehari-hari. Lainnya, evaluasi kepada siswa tidak berdasar pada angka, tapi dilakukan dengan cara interaksi antara guru dan siswa. 

Model evaluasi ini di kurikulum baru, diterapkan di kelas 7. Berdasar catatan dari studi komparasi, maka ada beberapa yang menarik untuk kita jadikan contoh dalam mengejar ketertinggalan kita di sektor pendidikan. Diantaranya tentang kualitas dan kemampuan guru, menciptakan suasana belajar-mengajar yang nyaman dan bersahabat, memperhatikan jumlah mata pelajaran, jam belajar per minggu, maupun dalam melihat potensi dan kemampuan para siswa.

Dan semua itu butuh terobosan untuk mengubah beberapa sistem dan kebijakan pendidikan kita yang selama ini diterapkan di Indonesia. Sekali lagi, untuk kualitas pendidikan yang lebih baik bagi generasi kita di masa yang akan datang, kita harus punya keberanian merombak sistem pendidikan kita. Tak cukup hanya sekadar mengagumi pendidikan di negara maju semata.