Senin, 27 November 2017 16:09 WITA

Pilwalkot Makassar

Menanti DIAmi Cetak Sejarah Baru di Sulsel

Editor: Mulyadi Abdillah
Menanti DIAmi Cetak Sejarah Baru di Sulsel
Danny Pomanto dan Indira Mulyasari

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Sejarah baru bakal tercipta di Provinsi Sulsel. Untuk kali pertama, calon incumbent mendaftarkan diri lewat jalur independen.

Ialah Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan 'Danny' Pomanto yang ingin menghadirkan situasi politik tersebut. Apalagi, menguat kabar, dukungan 400 ribu fotokopi KTP warga, siap diangkut ke KPU untuk diregistrasi, Selasa besok (28/11/2017).

Sebetulnya, Danny yang telah deklarasi bersama pasangannya, Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi), pada pekan lalu didukung oleh sejumlah parpol. Bahkan, telah ada 4 parpol yang mengeluarkan surat keputusan.

Namun, keragu-raguan Danny masih begitu tinggi. Pasalnya, hingga minus dua hari pendaftaran independen ditutup, tak ada satu pun parpol yang berani menyerahkan secara resmi.

Belum lagi, Danny merasa, ada elite yang mencoba untuk merecoki dukungan parpol yang telah diarahkan kepadanya. Makanya, Danny sempat menyebut, 'begal' parpol bisa terwujud, jika dirinya menyia-nyiakan peluang maju lewat jalur independen.

Menanti DIAmi Cetak Sejarah Baru di Sulsel

Berkaca pada Pilwalkot sebelumnya, belum pernah ada kandidat perseorangan, yang berhasil memenangi pertarungan. Untuk menjadi 3 besar sekalipun.

Misalnya pada Pilwalkot Makassar 2008 lalu. Dari 6 pasangan calon, 3 di antaranya menempuh jalur non-parpol. Dan ketiga-tiganya hanya berhasil finis di posisi buncit. Presentasenya pun terbilang rendah, tak ada yang mencapai 3 persen suara.

Kembali berulang di Pilwalkot Makassar 2013. Dari 10 pasang, ada 4 yang mencoba peruntungan. Dan lagi, keempat kandidat tersebut tersungkur. Tak ada yang mampu menjadi pesaing berarti.

Khusus di Sulsel, kandidat perseorangan yang mampu menang, hanya terjadi di Pilkada Gowa 2015 lalu. Adnan Purichta Ichsan-Abdul Rauf kala itu mampu mengandaskan 4 rivalnya. Namun, waktu itu, Adnan bukan lah berstatus incumbent.

Sementara itu, dari penelusuran Rakyatku.com di situs KPU, incumbent yang menempuh jalur perseorangan, sempat terjadi pada Pilkada 2015. Ada yang terpilih, namun ada pula yang gagal. 

Incumbent jalur perseorangan yang terpilih adalah Rita Widyasari-Edi Damansyah (Kutai Kertanegara), Dadang M Naser-Gun Gun Gunawan (Bandung) dan Jimmy Feidie Eman-Syerly Adelyn Sompotan (Tomohon). 

Bagaimana dengan peluang Danny Pomanto-Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi)?

"Memang beberapa kali pelaksanaan pilkada, jarang ada yang menang kalau lewat jalur independen. Tetapi tetap ada yang menang, dan yang menang itu memang punya figuritas dan elektabilitas tinggi serta mumpuni. Danny sendiri sejauh ini surveinya juga tergolong tinggi, walau statusnya sebagai incumbent ikut mempengaruhi elektabilitasnya," ucap Koordinator Wilayah Sulawesi SMRC, Riswadi Atto Taroempoe, pada Senin (27/11/2017).

Menanti DIAmi Cetak Sejarah Baru di Sulsel

Meskipun tak dipungkiri oleh Riswadi, Danny perlu kerja ekstra untuk kembali berada di pucuk pimpinan, jika tak menggandeng parpol.

"Dan ketika Danny maju lewat jalur independen, menarik untuk kita tunggu parpol yang selama ini ada indikasi memberikan dukungan, akhirnya tetap mengusung atau malah menarik usungannya?," tukas Riswadi.

Begitu pun yang diutarakan oleh Direktur Epicentrum Politica, Iin Fitriani. Kendati belum ada calon yang memaksimalkan peluang independen di Makassar, namun bukan tidak mungkin bakal dicatatkan oleh Danny. 

"Peluang Pak Danny besar karena secara pribadi, nilai elektoralnya baik. Pak Danny membawa prestasinya sebagai nilai jualnya. Pengalaman di birokrasi mengimbangi pengalaman politiknya," papar Iin.

Sementara itu, Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus juga berpandangan demikian. Baginya, modal Danny sebagai incumbent, menjadi keuntungan tersendiri. Termasuk ingin maju lewat 'pintu' mana pun.

"Pilkada itu persoalan bagaimana kita punya elektabilitas bagus di mata pemilih, jaringan infrastruktur politik dan finansial. Saya lihat ketiganya dimiliki Danny yang kemudian membuatnya berbeda dengan calon peseorangan lain yang pernah muncul. Jadi, lewat jalur apapun Danny tetaplah menjadi lawan berat bagi lawannya," jelas Nurmal.

Lebih lanjut Nurmal berpendapat, kekhawatiran Danny parpolnya akan 'dibegal' jika tak lewat jalur perseorangan, begitu realistis. Apalagi, katanya, setelah melihat eskalasi politik terakhir yang begitu nyata jelang Pilgub Sulsel. 

"Dengan UU Pilkada yang memberikan kuasa penuh kepada DPP Parpol untuk menentukan usungan di pilkada, maka segala kemungkinan bisa terjadi," tutup Eks Ketua KPU Makassar tersebut.