Senin, 04 Desember 2017 18:53 WITA

Nurdin Halid: Lebih Susah Jadi Manajer PSM Daripada Wali Kota

Editor: Fathul Khair Akmal
Nurdin Halid: Lebih Susah Jadi Manajer PSM Daripada Wali Kota
Nurdin Halid menyerahkan rekomendasi Partai Golkar kepada calon wali kota Makassar, Munafri Arifuddin, Senin (4/12/2017).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Ketua DPD Partai Golkar Sulsel, Nurdin Halid (NH) mengatakan, menjadi manajer klub sepak bola sekelas PSM Makassar, bukanlah pekerjaan mudah. 

"Lebih susah menjadi manajer PSM daripada menjadi wali kota. Saya tahu, karena saya pernah menjadi manajer PSM," kata NH usai menyerahkan rekomendasi Partai Golkar kepada Munafri Arifuddin, di Hotel Imperial Aryaduta, Jalan Penghibur Makassar, Senin (4/12/2017) sore.

Dengan alasan itulah, menurut bakal calon gubernur Sulsel tersebut, Partai Golkar membulatkan tekad untuk mengusung CEO PSM Makassar itu untuk bertarung dalam kontestasi Pilwalkot Makassar 2018 mendatang.

"Adinda Munafri ini sudah membuktikan diri layak dan sukses sebagai manajer PSM, apalagi kalau wali kota. Meski kemarin belum sempat juara, tapi Insya Allah di musim depan ketika Pak Appi wali kota dan NH yang jadi Gubernur, PSM akan kembali berjaya. Saya juga akan mengerahkan segala kemampuan saya untuk mengembalikan kejayaan PSM teutama untuk menghadirkan stadion bertaraf internasional di kota ini," bebernya.

Nurdin Halid: Lebih Susah Jadi Manajer PSM Daripada Wali KotaSelain pertimbangan tersebut, menurut NH, orang yang pernah mengurus sepak bola bukanlah sosok sembarangan.

"Karena memimpin orang bola itu harus mampu memadukan karakter orang per orang. Tanpa manajer yang mumpuni, tidak akan menghasilkan tim yang tangguh. Selain itu, seorang manajer juga mampu membaca karakter lawan. Belum lagi, setiap manajer yang bekerja sama dengan pelatih harus memiliki strategi berbeda di setiap pertandingan yang dimainkan," tambah Ketua Harian DPP Golkar ini.

Di mata NH, Appi juga merupakan sosok yang fokus dan ikhlas dalam bekerja.

"Adinda Munafri ini ikhlas. Untuk apa dia jadi wali kota coba, sementara basic need hidupnya sudah terpenuhi. Keluarganya bukan pengusaha kelas lokal tapi sudah kelas nasional. Jadi ada keihklasan untuk mengabdi dalam dirinya," pungkasnya.