Kamis, 07 Desember 2017 18:13 WITA

Opini

Fighting Spirit di Pilgub Sulsel

Editor: Mulyadi Abdillah
Fighting Spirit di Pilgub Sulsel
Nursandy Syam

PEMILIHAN Gubernur (Pilgub) Sulawesi Selatan (Sulsel) yang akan digelar pada tanggal 27 Juni 2018 menyajikan pertarungan sengit diantara calon kontestan. Nama-nama seperti Ichsan Yasin Limpo, Nurdin Halid, Nurdin Abdullah, Agus Arifin Nu’mang tak henti-hentinya bermanuver menggalang dukungan parpol untuk memuluskan langkah politiknya menjadi kontestan di Pilgub 2018.

Aroma politik “saling jegal” seakan tak terhindarkan. Benturan-benturan kepentingan elite parpol juga ikut mewarnai persaingan calon kontestan dalam mengamankan dukungan parpol.

Dinamika Pilgub Sulsel kali ini memang berbeda jika dibandingkan dengan Pemilihan Gubernur Sulsel yang lalu. Figur-figur yang ambil bagian dalam pesta demokrasi di Sulsel bukanlah figur “kelas teri” melainkan “kelas gajah”. Mereka yang maju begitu diperhitungkan. Masing-masing memiliki kadar ketokohan, jejaring dan sumber daya politik yang mumpuni.

Proses politik yang dialami masing-masing calon kontestan memiliki tantangan dan dinamika yang berbeda. Ichsan Yasin Limpo (IYL) yang maju berpasangan dengan Andi Mudzakkar (Cakka) menuai kerikil tajam. Pasalnya, rentetan batu sandungan politik yang dialami seakan tak kunjung usai dihadapi. 

Fighting Spirit di Pilgub Sulsel

Hal itu terlihat dari dukungan Partai Amanat Nasional (PAN) yang sejak awal all out mendukung pasangan IYL-Cakka harus berpaling ke kandidat lain karena adanya tekanan.

Tak sampai disitu, dukungan PPP yang berada dalam genggaman kembali terganggu akibat dinamika internal partai yang tak kunjung berakhir. Meski IYL-Cakka berhasil meraih dukungan Partai Demokrat, komposisi parpol antara PPP dan Demokrat dianggap belum sepenuhnya aman oleh kubu IYL-Cakka walaupun kalkulasi kursinya sudah memenuhi syarat untuk maju melalui partai politik. Maka, skenario maju melalui jalur independen plus dukungan parpol dari PPP dan Demokrat menjadi langkah realistis ditempuh oleh kubu IYL-Cakka sekaligus langkah unpredictable bagi publik.

Lain lagi yang dialami oleh Nurdin Halid yang menggandeng Aziz Qahhar Mudzakkar sebagai pendampingnya. Upaya NH-Aziz maju melalui jalur parpol tergolong mulus setelah mengamankan dukungan Partai Golkar kemudian berhasil menggalang koalisi dengan Nasdem, PKPI dan PKB. Tantangan sesungguhnya yang dihadapi NH-Aziz bukanlah kendaraan politik tetapi sebagian publik yang ‘skeptis’ terhadap pasangan ini maju bertarung di Pilgub Sulsel 2018. Keraguan sebagian publik bukanlah tanpa sebab. Posisi strategis NH di DPP Golkar harus diperhadapkan dengan situasi Golkar yang sedang "sakit". Musibah ini tentu mendorong NH berpikir untuk mengamankan dukungan Golkar yang telah digenggam sebelumnya. 

Fighting Spirit di Pilgub Sulsel

Tak hanya itu, kasus hukum yang pernah menimpanya juga menjadi ujian untuk meloloskan dirinya sebagai salah satu kontestan. Meski pasangan NH-Aziz telah mendeklarasikan dirinya maju bertarung, tak lantas membuat keraguan publik menjadi hilang begitu saja.

Selanjutnya Nurdin Abdullah yang sebelumnya memastikan diri berpasangan dengan Tanribali Lamo harus mengingkari komitmennya maju bersama Tanribali karena kesulitan mendapatkan dukungan parpol. Di luar dugaan publik, Nurdin Abdullah menerima Andi Sudirman Sulaiman sebagai wakilnya. Meski kalah populer dari Tanribali tetapi Andi Sudirman Sulaiman mampu mendatangkan parpol bagi Nurdin Abdullah. 

Pasangan NA-ASS berhasil mendapatkan dukungan PDIP, Gerindra, PKS, dan PAN yang sebelumnya mendukung IYL-Cakka dengan total 31 kursi. Meskipun dukungan kursi telah melampaui syarat dukungan untuk maju melalui partai politik, langkah NA-ASS nampaknya tak begitu mulus.

Fighting Spirit di Pilgub Sulsel

Ancaman bagi NA-ASS hadir dari pergerakan lobi politik yang dilakukan oleh Agus AN terhadap Gerindra.
Pertemuan Agus AN dengan Prabowo mengusik ketenangan dan konsolidasi yang sementara dibangun oleh NA-ASS dengan parpol pengusungnya. Manuver politik Agus AN tak berhenti sampai disitu, PKS sementara digoyang juga oleh Agus AN.

Ambisi politik Agus AN yang sebelumnya sempat redup, kini kembali terang setelah dikabarkan akan menggandeng Tanribali Lamo sebagai pasangannya.

Manuver pantang menyerah yang dipertontonkan Agus AN lagi-lagi menambah daftar kejutan di Pilgub Sulsel. Jika Agus AN berhasil membajak Gerindra dan PKS, maka NA-ASS harus gigit jari dalam mengarungi proses kontestasi Pilgub jika tidak menyiapkan strategi defensif.

Fighting Spirit di Pilgub Sulsel

Pilgub Sulsel masih berlangsung dinamis dan kejutan-kejutan tentu masih berpeluang terjadi, mengingat Pilgub Sulsel masih tersisa 7 bulan lagi. Namun, satu hal yang bisa kita simpulkan dari proses politik yang dialami dan dijalankan oleh masing-masing calon kontestan bahwa dalam diri mereka terpatri semangat juang yang tinggi. Tak kenal putus asa demi mencapai impian. 

Mereka mengajarkan kita akan pentingnya ‘fighting spirit” sebagai salah satu modal dasar dalam menghadapi kontestasi politik. Semangat juang kadang seperti obat, terasa pahit namun harus ditelan, bila ambisi politik ingin terus berlanjut. 

Semangat juang bukanlah tempelan diri semata, namun nasib baik akan mengikuti mereka yang tidak kenal kata menyerah, memiliki kesabaran paripurna dan ikhtiar tanpa mengenal kata akhir.

Penulis: Nursandy Syam
Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI)