Kamis, 18 Januari 2018 13:43 WITA

Membedah Fenomena Head to Head Pilwalkot Makassar

Editor: Almaliki
Membedah Fenomena Head to Head Pilwalkot Makassar
Ilustrasi

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Duel head to head akan mewarnai pertarungan kontestasi Pilwalkot Makassar 2018. Incumbent Mohammad Ramdhan "Danny" Pomanto yang berpasangan dengan Indira Mulyasari Paramastuti (Danny-Indira), akan ditantang oleh duet Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu).

Danny-Indira yang dikenal dengan tagline "DIAmi", memilih maju lewat jalur independen atau perseorangan. Sementara duet Appi-Cicu, maju lewat jalur partai politik. Pasangan ini diusung oleh koalisi gemuk yang terdiri atas 10 parpol, masing-masing Golkar, NasDem, Hanura, Gerindra, PKS, PDIP, PAN, PBB, PPP, dan PKPI.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto, menilai fenomena head to head di Pilwalkot Makassar ini sangat menarik. 

"Setidaknya situasinya berbeda dengan kota lain seperti Parepare dan Palopo. Di Pilwalkot Makassar, incumbent tidak mendapatkan usungan partai politik hingga akhirnya memilih jalur perseorangan. Padahal biasanya incumbent yang dianggap berhasil cenderung membangun koalisi besar partai politik pengusung," tuturnya saat dikonfirmasi Rakyatku.com, Kamis (18/1/2018) siang.

Menurut Luhur, rivalitas antara incumbent dan sang penantang di Pilwalkot Makassar akan terlihat dari persaingan mereka memainkan mesin-mesin elektoralnya masing-masing.

"Incumbent bisa mengandalkan koalisi kecil partai politik pendukung, umumnya partai politik baru dan non kursi parlemen, serta mesin birokrasi dan infrastruktur ormas. Incumbent selalu punya previlege untuk menguasai segmen ini. Sementara itu, pihak penantang tentu mengandalkan infrastruktur koalisi besar partai politik pengusung serta tim profesional korporasi. Mesin politik yang dikuasai penantang sebenarnya sudah terbiasa dengan kerja-kerja elektoral," urainya.

Membedah Fenomena Head to Head Pilwalkot Makassar

Lebih lanjut, menurut Luhur, salah satu rumus umum untuk mengalahkan incumbent adalah dengan mengonsolidasi kekuatan penantang.

"Mereka perlu mengkonsolidasikan kekuatan penantang, sehingga tidak terjadi fragmentasi suara pendukung perubahan," tandasnya.

Sementara Direktur Lembaga Survei Epicentrum Politica, Iin Fitriani, mengamati bahwa baik pasangan Danny-Indira maupun Appi-Cicu terlihat sudah sangat siap dengan skema head to head. Hal ini membuat tensi persaingan di Pilwalkot Makassar semakin terlihat. 

"Keduanya sudah saling berusaha menggarap basis lawan, di samping memperkuat potensi masing-masing. Misalnya, Danny-Indira yang berusaha menjaga pengaruhnya di level birokrasi. Sementara Appi-Cicu juga kian serius merangkul partai pengusung mereka untuk berkoordinasi," ungkapnya.

Senada dengan itu, pakar politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono juga menilai bahwa ajang Pilwalkot Makassar sangat menarik untuk dianalisis. Terlebih lagi, pelbagai manuver dan wacana di antara kedua tim paslon tersebut sudah membentuk kompetisi bebas, hingga pada tanggal 12 Februari mendatang, saat KPU akan mengumumkan keabsahan peserta Pilwalkot Makassar 2018. 

"Karena setelah itu, pertarungan head to head ini sudah demikian ketat dan diatur oleh PKPU. Sudah fitrahnya seorang incumbent akan bersikap defensif, dan sebaliknya penantang akan terus menyerang," pungkasnya.

Membedah Fenomena Head to Head Pilwalkot Makassar