Rabu, 14 Maret 2018 14:14 WITA

Hitung-hitungan Kekuatan Kandidat di Pilkada Wajo

Editor: Aswad Syam
Hitung-hitungan Kekuatan Kandidat di Pilkada Wajo
Ngobrol pilkada yang digelar di Warkop 212 Boulevard, Rabu (14/3/2018).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Arah dukungan pemilih di Pilkada Wajo kian dinamis. Duel antara pasangan Amran Mahmud-H Amran (Pammase), dan dr Baso Rahmanuddin Makkaraka-KH Anwar Sadat (Barakka), makin ketat.

Sempat beredar hasil riset Celebes Research Center (CRC), yang menempatkan pasangan Barakka meraup elektabilitas 43 persen, sementara Pammase 38,6 persen.

Dalam diskusi Ngobrol Pilkada (Ngopi) yang digelar oleh Poros Pemuda Indonesia (PPI) Grup Whatsapp Political School yang bertajuk 'Bedah Kekuatan Pasangan Barakka di Pilkada Wajo', yang digelar di Warkop 212 Boulevard, Jalan Topaz, Makassar, pada Selasa (14/3/2018), Direktur Indeks Politica Indonesia (IPI), Suwadi Idris membeberkan hasil risetnya. 

Dalam temuannya, pada medio survei Maret, elektabilitas Barakka justru berada di angka 40 persen. "Sementara elektabilitas Pammase turun menjadi 40 persen koma sekian-sekian," katanya.

Menurut Suwadi, pencapaian Barakka tidak terlepas dari peran Bupati Wajo, Burhanuddin Unru. Mengingat dr Baso ialah menantu Burhanuddin.

"Naiknya elektabilitas Barakka, tidak lepas dari peran ketokohan nama baik bupati dan peran partai politik, seperti anggota DPR RI Andi Irwan Darmawan Aras. Kontribusi Pak Irwan Darmawan Aras sangat besar mengangkat elektabilitas Barakka dari tertinggal menjadi naik. Dan perlu dicermati, biasanya calon yang pernah unggul kemudian menjadi tertinggal, itu sulit untuk naik kembali elektabilitasnya," tandas Suwadi.

Pembicara lainnya, Dekan FISIP Universitas Bosowa, Arief Wicaksono menyebut, naiknya elektabilitas Barakka menunjukkan bahwa publik Wajo lebih percaya kepada pasangan Barakka ketimbang Pammase. Hasil survei ini juga menunjukkan masyarakat Wajo puas dengan kinerja bupati Andi Burhanuddin Unru selama ini. 

"Ada selisih lima persen berarti ada tren yang semakin baik. Tingkat kepercayaan masyarakat bisa diukur dari naiknya tren. Kalau pasangan calon itu trendnya turun, berarti kepercayaan masyarakat berkurang. Begitupun sebaliknya. Apalagi kredibilitas IPI ini juga tidak perlu lagi dipertanyakan kalau terkait penelitian-penelitian ilmiah," kata Arief.

Sedikit berbeda, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Arqam Azikin mengingatkan pasangan Barakka untuk tidak jemawa dengan posisi yang unggul saat ini. Lantaran skenario head to head di pilkada, mengakibatkan perubahan dukungan masyarakat rentan terjadi.

"Dalam posisi head to head, pergeseran suara itu cepat sekali terjadi, karena cuma ada dua pilihan. Dimana basis desa menjadi yang paling menentukan. Kalau hari ini desa dikuasai oleh Barakka, maka kalau kemudian dalam satu dua bulan ini tim Barakka terlalu cepat puas dengan posisi sekarang, maka bisa jadi Pammase akan kembali menyalip," kata Arqam.