Rabu, 14 Maret 2018 16:32 WITA

GP Ansor Inisiasi Gerakan Anti Politisasi Tempat Ibadah di Pilkada Serentak Sulsel

Penulis: Sutrisno Zulkifli - Muh. Fadel
Editor: Adil Patawai Anar
GP Ansor Inisiasi Gerakan Anti Politisasi Tempat Ibadah di Pilkada Serentak Sulsel

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - GP Ansor Sulsel menggelar kegiatan 'Deklarasi Menolak Politisasi SARA dan Penggunaan Tempat Ibadah Sebagai Panggung Kampanye pada Pilkada Serentak 2018 di Sulawesi Selatan', di Hotel Remcy, Jalan Boulevard, Makassar, pada Rabu (14/3/2018).

Kegiatan yang dirangkaikan dengan dialog ini dihadiri oleh banyak elemen, termasuk pihak KPU, Bawaslu, kepolisian, TNI, KNPI dan organisasi-organisasi kemasyarakatan, serta organisasi kemahasiswaan.

Ketua Panitia Pelaksana, Rusdi mengatakan, deklarasi ini penting untuk digalakkan lantaran maraknya penggunaan tempat ibadah yang disinyalir digunakan sebagai tempat kampanye. Begitu, katanya, tak pelak isu SARA kerap dijadikan sebagai bahan kampanye politik kandidat tersebut.

"Deklarasi ini menolak politisasi tempat ibadah untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan politik pribadi pasangan calon, dan kita juga menolak politisasi SARA," kata Rusdi dalam sambutannya.

GP Ansor Inisiasi Gerakan Anti Politisasi Tempat Ibadah di Pilkada Serentak Sulsel

Sementara Sekretaris GP Ansor Gowa, Fatahuddin mengungkapkan, deklarasi penolakan politisasi tempat ibadah dan SARA, penting dilakukan, bukan hanya saja lembaga ormas maupun penyelenggara pilkada, melainkan semua kandidat harusnya punya niat baik untuk tidak menggunakan tempat ibadah sebagai ajang politik. 

Menurut dia, masyarakat cukup resah jika kesucian tempat ibadah dimanfaatkan oleh politisi untuk kepentingan pribadi, kata dia, tempat ibadah harus difungsikan sebagai mana mestinya. 

"Tidak boleh tempat ibadah dimanfaatkan oleh politisi sebagai ajang kampanye, begitupun dengan isu SARA yang bisa memicu konflik antar sesama," pungkasnya 

GP Ansor Inisiasi Gerakan Anti Politisasi Tempat Ibadah di Pilkada Serentak Sulsel

Ketua KPU Sulsel, Iqbal Latief mengatakan dalam diskusi, kampanye pasangan calon merupakan ajang bagi kontestan untuk menyampaikan visi misi dan program ke masyarakat agar mendapatkan pemilih. 

Selain itu Iqbal Latief membenarkan jika tempat ibadah bukan sebagai tempat untuk kampanye politik, melainkan tempat bagi kelompok agama tertentu menjalankan aktivitas ibadahnya. 

"Materi kampanye pasangan calon harus berorientasi pada program, jangan mau menyinggung unsur SARA, jadi tidak boleh ada yang namanya kampanye di tempat ibadah karena disitu proses hubungannya dengan tuhan bukan jadi ajang politik," tutupnya.